Yang Dimaksud Ekonomi Syariah Serta Prinsip, Tujuan dan Manfaat

  • On March 22, 2019 ·
  • By ·
Yang Dimaksud Ekonomi Syariah Serta Prinsip, Tujuan dan Manfaat

Memahami ekonomi Syariah

Ekonomi Syariah adalah cabang ilmu yang berupaya melihat, menganalisis dan, akhirnya, memecahkan masalah ekonomi dengan bantuan Islam berdasarkan ajaran Islam, yaitu, Al-Quran dan Sunnah Nabi (P3EI, 2012: 17).

Ekonomi Islam memiliki dua hal utama yang membentuk dasar hukum sistem ekonomi Islam, yaitu, Al-Quran dan Sunnu Nabi, hukum diambil dari dua prinsip dasar dalam konsep, dan prinsip itu tetap (tidak dapat berubah kapan saja dan di mana saja).

Berikut ini beberapa ide dari beberapa sumber ekonomi Islam:

Yang Dimaksud Ekonomi Syariah

Menurut Rianto dan Amalia (2010: 7)

Menurut Monzer Kahf, dalam bukunya Ekonomi Islam menjelaskan bahwa ekonomi Islam adalah bagian dari ekonomi interdisipliner dalam arti bahwa mempelajari ekonomi Islam tidak bisa mandiri, tetapi membutuhkan pengetahuan yang baik dan mendalam tentang ilmu-ilmu Islam dan ilmu-ilmu pendukungnya, yang berfungsi sebagai alat analitis seperti matematika, statistik, logika dan usi fiqh.

Definisi ekonomi Islam didasarkan pada pendapat Mohammed Abdullah Al-Arabi (1980: 11)

Ekonomi syariah adalah seperangkat fondasi ekonomi umum, yang kami simpulkan dari Al-Quran dan Sunnah, dan ini adalah bangunan ekonomi yang kami dirikan di atas fondasi fondasi sesuai dengan setiap lingkungan dan periode.

Dasar-dasar Ekonomi Syariah

Implementasi ekonomi Islam harus menerapkan prinsip-prinsip berikut (Sudarsono, 2002: 105):

  1. Berbagai sumber dianggap memberi atau dipercaya oleh Tuhan kepada manusia.
  2. Islam mengakui kepemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu.
  3. Kekuatan pendorong utama adalah kerja sama.
  4. Ekonomi syariah tidak menerima akumulasi kekayaan yang dikendalikan hanya oleh beberapa orang.
  5. Ekonomi syariah menjamin properti publik, dan penggunaannya direncanakan untuk kepentingan banyak orang.
  6. Seorang Muslim harus takut kepada Allah SWT dan hari yang penting di masa depan.
  7. Zakat harus dibayar untuk kekayaan yang memenuhi perbatasan (Nisab).
  8. Islam melarang riba dalam segala bentuk.

Layaknya sebuah bangunan, sistem ekonomi Islam harus memiliki fondasi yang bermanfaat sebagai dasar dan mampu mendukung semua jenis kegiatan ekonomi untuk mencapai tujuan mulia.

Berikut ini adalah prinsip-prinsip dasar ekonomi Islam, termasuk (Zainuddin Ali, 2008):

  1. Tanpa terlibat dalam akumulasi (ichtiqar), Penymbunan dalam bahasa Arab disebut al-ichtiqar. Secara umum, ichtikar dapat diartikan sebagai tindakan membeli barang untuk tujuan menyimpan atau menyimpan barang untuk jangka waktu yang lama, sehingga barang tersebut dinyatakan sebagai barang langka dan mahal.
  2. Tanpa memonopoli, Monopoli adalah kegiatan menjaga barang tersedia untuk dijual atau tidak di pasar, sehingga harganya menjadi mahal. Aktivitas monopoli adalah salah satu hal yang dilarang dalam Islam, jika monopoli dilakukan dengan sengaja dengan mengakumulasi barang dan menaikkan harga barang.
  3. Menghindari pembelian dan penjualan yang dilarang, pembelian dan penjualan tindakan yang konsisten dengan prinsip-prinsip Islam, adil, sah dan tanpa mengurangi salah satu pihak, adalah tindakan yang sangat disayangi oleh SWT Allah. Karena pada kenyataannya segala sesuatu yang mengandung unsur jahat dan ketidaktaatan adalah melawan hukum.

Tujuan ekonomi syariah

Tujuan Ekonomi Syariah konsisten dengan tujuan Syariah itu sendiri (Makashid ash Shariat), yaitu untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di masa depan (falah) melalui sistem kehidupan yang baik dan penuh hormat (hayah thayyibah).

Sasaran Falah yang ingin dicapai oleh ekonomi Syariah mencakup aspek mikro atau makro, termasuk cakrawala waktu dunia atau lebih (P3EI, 2012: 54).

Keuntungan ekonomi Islam

Jika praktik ekonomi syariah itu sendiri akan bermanfaat besar bagi umat Islam, yaitu:

  1. Memahami integritas seorang Muslim yang korup, sehingga Islam tidak lagi ragu-ragu. Jika ada seorang Muslim yang masih mempraktikkan ekonomi tradisional, ini menunjukkan bahwa Islam belum jelas.
  2. Pengenalan dan praktik ekonomi Islam melalui lembaga keuangan Islam, baik dalam bentuk bank, perusahaan asuransi, pegadaian, dan BMT (Baitul Maal wat Tamwil) akan bermanfaat bagi dunia dan kehidupan masa depan. Laba di dunia diperoleh dengan membagikan hasilnya, sementara laba di masa depan bebas dari unsur riba, yang dilarang oleh Allah.
  3. Praktek ekonomi berdasarkan syariah Islam mengandung nilai ibadah karena mempraktikkan syariah Allah.

Sumber : https://guruakuntansi.co.id/